s

Aksi Bela Rakyat 121, Mahasiswa menyerbu Istana N



SIGMA TV UNJ, JAKARTA – Kamis (12/1), ribuan mahasiswa di bawah komando Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dari berbagai kampus di Jabodetabek dan Banten melakukan aksi bela rakyat 121 di Istana Negara, Jakarta Pusat. Aksi ini dimulai pada pukul 10.00 WIB, dengan berkumpulnya masa di depan Patung Kuda Indosat, Jakarta Pusat. Lalu melakukan Long March menuju depan Istana Negara. Dalam aksi tersebut, menuntun beberapa kebijakan pemerintah yang dirasa telah menyulitkan rakyat kecil. Ada beberapa tuntutan umum yang menjadi landasan aksi 121, yaitu: Mencabut PP No. 60 Tahun 2016 tentang kenaikan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak atau PNBP yang berlaku pada kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menolak kenaikan tarif dasar listrik golongan 900 VA dan mendesak di kembalikannya subsidi untuk tarif dasar listrik golongan 900 VA. Kembalikan mekanisme penetapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada pemerintah dan menjamin terpenuhinya kebutuhan BBM bersubsidi di seluruh SPBU. Aksi bela rakyat 121, tidak hanya dilakukan di Istana Negara, namun juga dilakukan di 19 titik kota di Indonesia. Aceh : DPRD Aceh dan Lhoksumawe Padang : DPRD Sumbar Riau : DPRD Riau Jambi : DRPR Jambi Palembang : DPRD Sumsel Bengkulu : Simpang Lima Lampung : Tugu Adipura Bangka Belitung : DPRD Babel Jakarta : Istana Negara Bandung : Gedung Sate (DPRD Jabar) Yogyakarta : DPRD Yogyakarta Semarang : Kantor Gubernur Surabaya : DPRD Jaktim dan Pemprov Jaktim Samarinda : DPRD Kaltim Banjarmasin : DPRD Kalsel Pontianak : DPRD Kalbar atau Tugu Digulis Mataram : DPRD NTB Gorontalo : DPRD Provinsi dan Kab. Gorontalo Merauke : DPRD Papua Aksi di depan Istana Negara, diisi oleh beberapa kegiatan seperti orasi dari berbagai orator kampus di Jabodetabek dan Benten, melakukan teater, dan sempat terjadi pembakaran atribut aksi ini membuat suasana menjadi menegang antara mahasiswa dan pihak kepolisian. Akibat dari adanya aksi tersebut, membuat jalan di sekitar kawasan Medan Merdeka macet dan kepolisian menutup sebagian sisi jalan busway. Hingga pada akhirnya tiga orang mahasiswa perwakilan BEM SI, masuk ke dalam Istana Negara dengan harapan untuk berdialog dan bertemu Presiden Republik Indonesia. Namun sangat disayangkan, yang ditemui bukanlah Presiden Republik Indonesia melainkan ialah salah satu Staf Kepresidenan dengan alasan Presiden Republik Indonesia tidak dapat ditemui karena sedang melakukan rapat terbatas bersama menteri. Hasil pertemuan tersebut antara perwakilan BEM SI dan Staf Kepresidenan menghasilkan empat nota kesepahaman yang ditandatangani oleh staf kepresidenan dan Koordinator Pusat BEM SI, Bagus Tito Wibisono. Berikut ini nota kesepahamannya. Pemerintah menjamin tidak akan terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di SPBU seluruh Indonesia. Dampak kenaikan harga BBM non subsidi tidak akan menyebabkan kenaikan harga pokok lainnya, dan pemerintah menjamin itu. Pemerintah menjamin kenaikan tarif dasar listrik untuk 900 VA dilakukan untuk kepentingan rakyat dan tepat sasaran. Jika tidak tepat sasaran dapat melaporkan ke PLN dan akan mendapatkan subsidi. Kenaikan tarif STNK dan BPKB digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepolisian dan ada sosialisasi pelayanan seperti apa yang ingin ditingkatkan. Dalam hal ini pemerintah menjamin itu. Jika selama 3 bulan ditemukan pelanggaran dan kesalahan, maka mahasiswa siap untuk menegur dan mengingatkan pemerintah. Hingga pada pukul 19.00 WIB. Setelah turunnya nota kesepahaman tersebut, beberapa para aksi belum mau untuk membubarkan diri dan tetap bertahan di depan Istana Negara, Jakarta Pusat. Redaksi: Asep Ricky Subagya/SIGMA TV UNJ.